KUPANG — Aktivitas perdagangan eceran di Kota Kupang pada Agustus 2026 masih menghadapi tekanan secara tahunan. Namun, secara bulanan, kondisi tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan prakiraan Indeks Penjualan Riil (IPR), kinerja penjualan eceran Kota Kupang pada Agustus 2026 tercatat sebesar 64,20 secara tahunan. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh sejumlah kelompok komoditas, mulai dari sandang, barang budaya dan rekreasi, makanan-minuman dan tembakau, bahan bakar kendaraan bermotor, kendaraan, hingga peralatan informasi dan komunikasi.
Meski demikian, tidak seluruh kelompok perdagangan mengalami tekanan. Sejumlah sektor masih diperkirakan memberikan kontribusi terhadap aktivitas penjualan eceran, antara lain kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang lainnya.
Jika dibandingkan dengan Juli 2026, kondisi penjualan eceran pada Agustus menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kontraksi secara bulanan diprakirakan berada di level 4,60 persen, lebih rendah dibandingkan kontraksi 11,04 persen pada bulan sebelumnya.
Perkembangan di Kota Kupang tersebut sejalan dengan kondisi penjualan eceran secara nasional yang juga diprakirakan mengalami penurunan secara tahunan. Namun, secara bulanan, penjualan nasional diperkirakan relatif stabil karena permintaan masyarakat tetap terjaga selama momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tekanan Harga Masih Perlu Diwaspadai
Selain perkembangan penjualan, Bank Indonesia juga mencatat adanya tekanan harga yang masih perlu diperhatikan dalam beberapa bulan mendatang.
Ekspektasi harga untuk Oktober 2026 diprakirakan masih tinggi. Indeks Ekspektasi Harga (IEH) Oktober 2026 tercatat 200,00, sama dengan periode sebelumnya. Kondisi tersebut antara lain dikaitkan dengan dampak El Niño yang diperkirakan masih terasa hingga pertengahan Oktober.
Sementara itu, untuk Januari 2027, tekanan harga diprakirakan mulai menurun. IEH Januari 2027 tercatat 197,6, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 200,0. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal.
Dengan demikian, meskipun perdagangan eceran Kota Kupang masih menghadapi tekanan secara tahunan, pelemahan secara bulanan pada Agustus 2026 tercatat lebih terbatas dibandingkan bulan sebelumnya. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam melihat dinamika konsumsi masyarakat di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
KEVIN valentino















