OPINI
Oleh: Ridho Seran
Ada sebuah pemandangan dari tragedi gempa Flores yang mungkin akan sulit dilupakan oleh siapa pun yang melihatnya.
Di bawah reruntuhan rumah, seorang ibu ditemukan bersama bayinya.
Sang ibu terbaring, sementara bayinya berada di atas dadanya. Salah satu tangannya masih merangkul erat tubuh kecil itu.
Mereka ditemukan dalam keadaan telah meninggal dunia.
Namun bahkan dalam kematian, pelukan seorang ibu itu masih berbicara.
Ia seolah mengatakan: “Nak, selama Ibu masih bisa memelukmu, Ibu tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu.”
Tidak ada lagi suara.
Tidak ada lagi tangisan.
Tidak ada lagi kesempatan bagi sang ibu untuk mengucapkan kata terakhir kepada anaknya.
Yang tersisa hanyalah sebuah pelukan.
Pelukan terakhir.
Pelukan yang mungkin terjadi dalam hitungan detik ketika bangunan mulai runtuh.
Dalam keadaan panik, ketika manusia biasanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, sang ibu justru merangkul anaknya.
Mungkin ia tidak sempat berpikir.
Mungkin tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Karena bagi seorang ibu, melindungi anak bukan selalu keputusan yang dibuat dengan akal. Itu adalah bahasa cinta yang keluar secara alami dari hati.
Hari ini, ketika Indonesia merayakan kemerdekaan, kita harus berhenti sejenak dan mengingat ibu ini.
Ketika bendera Merah Putih dikibarkan di banyak tempat, ada keluarga di Flores yang sedang menundukkan kepala di hadapan kematian.
Ketika sebagian anak-anak Indonesia berlari mengikuti perlombaan 17 Agustus, ada seorang anak yang tidak lagi bisa memanggil ibunya.
Ketika banyak keluarga berkumpul menikmati kemeriahan kemerdekaan, ada keluarga yang sedang memandangi sebuah tempat yang dahulu merupakan rumah, tetapi kini tinggal puing.
Begitulah wajah lain dari 17 Agustus tahun ini. Bukan hanya wajah kegembiraan.
Tetapi juga wajah kehilangan.
Penderitaan yang tidak boleh kita lewati dengan acuh
Santo Yohanes Paulus II, dalam Salvifici Doloris, menulis tentang makna penderitaan manusia. Pada bagian yang dirujuk kembali oleh Paus Fransiskus, terdapat sebuah panggilan yang sangat kuat:
“to do good by one’s suffering and to do good to those who suffer.”
Artinya kurang lebih:
“Berbuat baik melalui penderitaan kita dan berbuat baik kepada mereka yang menderita.”
— Santo Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris, No. 30. Sumber resmi: Takhta Suci Vatikan.
Kalimat itu terasa begitu dekat dengan apa yang sedang terjadi di Flores.
Kita mungkin tidak mampu mengembalikan seorang ibu kepada anaknya.
Kita tidak mampu menghapus puing-puing dalam satu malam.
Kita tidak mampu mengembalikan rumah yang telah runtuh.
Tetapi kita masih bisa berbuat baik kepada mereka yang sedang menderita.
Kita bisa membantu.
Kita bisa mendoakan.
Kita bisa menyebarkan informasi yang benar.
Kita bisa menggalang bantuan.
Kita bisa datang ketika mereka membutuhkan.
Dan yang paling sederhana:
jangan biarkan mereka merasa dilupakan.
Sementara itu, Santa Theresia dari Lisieux mengajarkan jalan rohani yang oleh Gereja dirangkum sebagai jalan kepercayaan dan kasih—“trust and love”. Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa dua kata tersebut menjadi seperti pelita yang menerangi perjalanan hidup Santa Theresia
Mungkin itulah yang juga perlu kita berikan kepada Flores:
kepercayaan bahwa mereka tidak sendiri, dan kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Untukmu, Ibu…
Entah siapa namamu.
Entah berapa usiamu.
Entah seperti apa suara tawamu ketika menggendong anakmu.
Entah apa yang terakhir kali engkau katakan sebelum rumah itu runtuh.
Kami tidak mengenalmu secara pribadi.
Tetapi hari ini, Indonesia bahkan dunia mengenangmu.
Kami membayangkan bagaimana dalam detik-detik terakhir itu, engkau memilih merangkul anakmu. Engkau tidak berlari meninggalkannya.
Engkau tidak melepaskan tangan kecilnya.
Engkau justru memeluknya semakin erat, dan ketika tubuhmu sudah tidak mampu lagi melawan reruntuhan, pelukanmu tetap bertahan.
Ibu…
Mungkin tubuhmu telah pergi.
Tetapi pelukanmu meninggalkan pesan yang jauh lebih panjang daripada umur manusia:
bahwa cinta seorang ibu tidak mengenal kata menyerah.
Engkau mungkin tidak sempat mengucapkan,
“Ibu sayang kamu.”
Tetapi pelukanmu telah mengatakan semuanya.
Dan kepada anakmu yang kini juga telah pergi…
Jika kasih seorang ibu bisa menjadi bahasa terakhir di dunia ini, mungkin pelukan itu adalah kalimat terakhir yang ingin ia sampaikan:
“Jangan takut, Nak. Ibu di sini.”
Betapa pedihnya membayangkan itu.
Seorang ibu pergi bersama anaknya.
Bukan dalam perjalanan menuju masa depan, tetapi dalam pelukan terakhir di bawah reruntuhan. Untuk kita yang masih hidup…
Jangan hanya menangisi kisah ini.
Belajarlah darinya.
Bahwa hidup begitu rapuh.
Bahwa rumah yang kita banggakan bisa runtuh dalam hitungan detik.
Bahwa orang yang kita cintai bisa pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Maka ketika hari ini kita masih bisa memeluk ibu kita, peluklah.
Ketika masih bisa menelepon ayah, teleponlah.
Ketika masih bisa berkumpul bersama keluarga, jangan sia-siakan waktunya.
Sebab bagi sebagian orang di Flores, kesempatan itu telah berakhir untuk selamanya.
Dan, untuk Indonesia…
Jangan biarkan kisah ibu dan bayinya hanya menjadi berita yang ramai selama beberapa hari, kemudian dilupakan.
Di balik angka korban, ada nama.
Di balik nama, ada keluarga.
Di balik keluarga, ada cinta.
Dan di balik cinta itu, ada kehidupan yang tidak akan pernah bisa digantikan.
Hari ini Merah Putih berkibar.
Biarlah ia tidak hanya menjadi simbol kemerdekaan.
Biarlah Merah Putih juga menjadi simbol bahwa ketika saudara kita terluka, kita datang.
Ketika mereka menangis, kita menemani.
Ketika mereka kehilangan, kita menguatkan.
Dan ketika mereka merasa sendirian, kita berkata:
“Flores, kalian tidak sendirian.
Kalian adalah bagian dari Indonesia.”
Untuk ibu yang meninggal dalam pelukan terakhirnya…
beristirahatlah dalam damai.
Pelukanmu mungkin telah berhenti.
Tetapi kisah cintamu kepada anakmu—
akan terus hidup di hati mereka yang mengetahuinya.















